Senin, 08 September 2014

Misteri Harta karun Jepang Pada PD-2



Timbunan emas Jenderal dari Jepang, Tomoyuki Yamashita, saat perang dunia II masih diburu banyak pihak. Timbunan emas itu disebut-sebut sebagai salah satu harta karun terbesar di dunia.
Ada organisasi khusus bernama Kin No Yuri atau Bunga Lili Emas. Saudara Kaisar Hirohito, Pangeran Yasuhito, dipercaya jadi ketua. Mereka merampas emas dari Asia Tenggara kemudian mengumpulkannya di Filipina, baru dikapalkan ke Jepang.
Sudah beberapa kali pengiriman emas dan barang berharga ke Jepang ini berhasil. Dari emas rampasan inilah Jepang membiayai peperangan di Pasifik. Sebuah front pertempuran yang membentang luas dari Manchuria hingga Kepulauan Solomon. Tentunya ini menguras biaya luar biasa besar.
Namun sejak tahun 1943, harta rampasan tak bisa dikirim ke Jepang. Penyebabnya, armada Jepang sudah kalah di lautan.
Mereka tak punya lagi cukup kapal perang atau pesawat tempur guna mengawal kapal-kapal emas tersebut ke Jepang.
Pesawat tempur sekutu dan kapal selamnya siap mengkaramkan kapal Jepang yang lewat.
Sekitar tahun 1945, Jepang sudah nyaris kalah total. Pangeran Yasuhito, Jenderal Yamashita dan beberapa pejabat lain meledakkan terowongan dan gua untuk menutup timbunan emas dalam gua-gua di bawah tanah.
Diperkirakan ada sekitar 6.000 ton emas yang telah dirampas tentara Jepang di kawasan Asia Tenggara dan beberapa negara disekitarnya saat Perang Dunia II tersebut.
Banyak yang percaya harta tersebut tersebar di beberapa negara Asia Tenggara dan tak sempat dibawa ke Jepang.
Mulai dari tentara, pemburu harta karun, hingga presiden, mereka semua berebut untuk mendapatkan emas seberat ribuan ton yang telah dijarah pasukan Jepang dari negara-negara di Asia Tenggara saat Perang Dunia II.
Rogelio Roxas adalah seorang tentara Filipina. Tahun 1960an, dia bertemu seorang yang mengaku bekas penerjemah Jenderal Yamashita saat perang dunia II.
Roxas pun memulai perburuannya. Dia menggali di kawasan Baguio City. Dia menemukan lorong-lorong bekas persembunyian tentara Jepang yang sudah dihancurkan.
Rogelio Roxas mengklaim pernah menemukan patung budha dari berlian dan emas murni dari terowongan Jepang di Filipina. Dia menduga penemuan ini baru sebagian kecil dari Emas Yamashita.
Tahun 1971, Roxas mengaku menemukan sebuah patung budha dari emas. Tingginya hanya sekitar 1 meter, namun sangat berat. Roxas juga menemukan peti berisi batangan emas.
Tak cuma itu, Roxas kemudian menemukan dalam patung Budha itu ada beberapa butir berlian mentah. Dia yakin inilah sebagian kecil dari harta karun Yamashita. Beberapa pembeli telah menaksir harta karun tersebut.
Mereka meyakini barang-barang itu emas dengan kadar di atas 20 karat. Namun kabar ini sampai juga ke telinga Presiden Filipina saat itu, Ferdinand Marcos, sang diktator Filipina.
Lalu tersebar kabar bahwa Roxas menuding Marcos mengirim para pengawal kepresidenan untuk menangkap dirinya.
Kemudian, Marcos juga sempat menyita patung Budha dan emas batangan milik Roxas yang telah ditemukannya, hingga akhirnya Roxas pun dipenjara hingga beberapa tahun lamanya.
Tahun 1986, Marcos dilengserkan. Dia dan istrinya, Imelda Marcos lari ke Hawaii. Tahun 1988, Roxas menggugat Marcos di Pengadilan Hawaii.
Dia menuding Marcos telah melanggar HAM dan merampas harta karun yang telah ditemukannya.
Pada malam jelang persidangan, Roxas tewas. Kematiannya jadi polemik. Namun Roxas sempat merekam kesaksiannya dalam bentuk video. Persidangan Kubu Roxas VS Marcos ini berjalan sengit. Sembilan kali naik banding!
Hingga akhirnya pengadilan memutuskan Keluarga Marcos harus membayar ganti rugi pada Roxas. Jumlahnya, USD 6 juta untuk pelanggaran HAM dan sekitar USD 13 juta untuk ganti rugi harta karun yang dirampas.
Sedangkan Jenderal Tomoyuki Yamashita dieksekuti mati pada 3 Februari 1946 oleh pengadilan militer Amerika Serikat di Filipina. Dia digantung dengan tuduhan melakukan kejahatan perang selama perang Dunia II.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar